GORONTALO – Pelaksanaan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Limboto Kabupaten Gorontalo, tidak hanya menjadi ajang pertemuan dan pertukaran pengetahuan bagi petani dan nelayan dari berbagai daerah di Indonesia. Di balik kemeriahan kegiatan tersebut, para pelaku usaha kecil dan pedagang kaki lima turut merasakan dampak ekonomi yang signifikan.
Salah satu pedagang yang merasakan langsung manfaat penyelenggaraan PENAS adalah Bunarto, penjual bakso keliling yang akrab disapa Mas Bunarto. Menurutnya, peningkatan jumlah pengunjung sejak masa persiapan hingga pelaksanaan kegiatan telah membawa perubahan besar terhadap pendapatannya.
“PENAS ini sangat membantu kami para pedagang kecil. Sejak beberapa hari sebelum acara dimulai, pembeli sudah mulai ramai datang. Alhamdulillah, pendapatan kami ikut meningkat,” kata Bunarto, Rabu (24/6/2026).
Ia menjelaskan, pada hari-hari biasa omzet penjualannya berkisar Rp1 juta per hari. Namun selama berlangsungnya PENAS, pendapatannya melonjak hingga tiga kali lipat.
“Biasanya paling sekitar Rp1 juta sehari. Sekarang bisa mencapai Rp3 juta dalam sehari. Ini tentu sangat membantu ekonomi keluarga kami,” ujarnya.
Bunarto mengaku bersyukur karena kegiatan berskala nasional seperti PENAS mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat, terutama pelaku usaha mikro yang menggantungkan penghasilan dari penjualan harian.
“PENAS ini benar-benar membawa rezeki.,” singkatnya.
Hal serupa juga dirasakan oleh pedagang roti dan kue kering Istiwwati. Ia mengaku lonjakan jumlah pengunjung selama PENAS berdampak langsung pada peningkatan penjualan produknya.
Menurut Isti, omzet usahanya pada hari-hari normal hanya berada di kisaran Rp1 juta per hari. Namun selama kegiatan berlangsung, angka tersebut meningkat drastis hingga menembus lebih dari Rp10 juta per hari.
“Kalau hari biasa omzet kami sekitar Rp1 jutaan per hari. Selama PENAS ini bisa mencapai lebih dari Rp 7-8 juta sehari,” ungkapnya.
Ia mengatakan, salah satu produk yang paling diminati pengunjung adalah roti jadul yang dijual dengan harga Rp10.000 per bungkus. Produk tersebut bahkan kerap habis karena diborong oleh para pengunjung yang datang dari berbagai daerah.
“Yang paling laris itu roti jadul. Harganya Rp10 ribu, tetapi banyak sekali yang mencari dan sering diborong oleh pengunjung. Kadang kami harus menambah stok agar bisa memenuhi permintaan,” katanya.
Meningkatnya omzet para pedagang selama PENAS menunjukkan bahwa kegiatan nasional tidak hanya memberikan manfaat dari sisi edukasi dan pengembangan sektor pertanian serta perikanan, tetapi juga menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian daerah.
Kehadiran ribuan peserta, tamu, dan pengunjung dari berbagai wilayah menjadi peluang bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan pendapatan mereka.
Bagi para pedagang seperti Bunarto dan Sutuati, PENAS bukan sekadar agenda nasional, melainkan momentum yang membawa berkah bagi keberlangsungan usaha mereka.










