Daerah  

BI Sulampua Perkuat Swasembada dan Hilirisasi Pangan yang Inklusif 

Foto: Istimewa/ Humas BI Gorontalo.

Gorontalo – Bank Indonesia se-wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua (Sulampua) menyelenggarakan Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Sulampua dengan tema “Swasembada dan Hilirisasi Pangan di Sulampua” di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo pada Rabu (11/2/2026).

Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Gubernur Gorontalo, Ibu Idah Syahidah Rusli Habibie, dan merupakan bentuk komitmen dalam mendukung agenda swasembada dan hilirisasi pangan yang merupakan bagian dari visi pembangunan nasional Asta Cita.

Rakorwil Sulampua menghasilkan kesimpulan bahwa Swasembada pangan diwujudkan melalui penguatan strategi diversifikasi, intensifikasi, dan ekstensifikasi sumber daya pangan. Pada saat yang sama, hilirisasi pangan harus terus didorong untuk meningkatkan nilai tambah komoditas, memperluas kesempatan kerja, serta memperbaiki kesejahteraan petani dan pelaku usaha di sektor pangan.

Dari sisi struktur perekonomian, Sulampua mencatatkan peran lapangan usaha pertanian yang signifikan dengan pangsa sebesar 20,23 persen, dengan kontribusi utama dari subsektor pertanian dan perikanan. Pertumbuhan sektor pertanian sendiri mencapai 4,76 persen (yoy) pada triwulan III 2025.

Tren pertumbuhan ekonomi Sulampua pascapandemi memberikan sinyal positif, sekaligus menegaskan adanya ruang penguatan kebijakan dan program agar laju pertumbuhan dapat lebih diakselerasi menuju pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dengan tetap menjaga inklusivitas. Kondisi tersebut menjadi perhatian bersama dari pemerintah Provinsi Se-Sulampua agar berbagai program swasembada pangan dapat memberikan dampak yang lebih besar terhadap penguatan perekonomian kawasan.

Dalam konteks hilirisasi, Bank Indonesia mencermati adanya sejumlah tantangan yang perlu segera ditangani, mulai dari keterbatasan kapasitas produksi hingga minimnya fasilitas pascapanen.

Berdasarkan asesmen Bank Indonesia di Sulampua, komoditas prioritas yang perlu didorong proses hilirisasinya adalah beras, cabai, bawang merah, perikanan, dan jagung. Untuk mempercepat pelaksanaan program dan mengurai bottleneck tantangan tersebut, Bank Indonesia mendorong tiga fokus penguatan utama.

Pertama, penguatan sisi hulu yang terintegrasi hingga ke hilir agar rantai nilai berjalan efisien dan berkelanjutan.

Kedua, peningkatan faktor produksi terutama SDM, dengan penekanan pada literasi dan kapabilitas digital guna mendukung produktivitas, akses pasar, serta pencatatan dan pembiayaan.

Ketiga, penguatan sinergi lintas pihak antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan otoritas terkait lainnya dalam memastikan keselarasan kebijakan serta akselerasi implementasi di lapangan.

Rekomendasi kebijakan dan langkah aksi yang implementatif dari hasil Rakorwil Sulampua ini diharapkan dapat diterapkan di setiap Provinsi untuk mendorong swasembada dan hilirisasi pangan yang inklusif dan berkelanjutan sehingga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan perekonomian di kawasan Sulampua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *